Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein (Om Zein)HALO PURWAKARTA – Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein (Om Zein) mengakui jumlah rumah tidak layak huni (RTLH) di wilayahnya masih cukup tinggi. Namun, ia memastikan pemerintah daerah terus melakukan perbaikan secara bertahap melalui berbagai sumber pendanaan.
Pria yang akrab disapa Om Zein itu mengatakan warga yang merasa rumahnya sudah tidak layak huni dapat segera mengajukan bantuan melalui aplikasi Sapa Warga Imah Aing.
“Kalau merasa rumahnya sudah tidak layak huni, segera daftarkan di aplikasi Sapa Warga Imah Aing. Caranya gampang, tinggal lampirkan KTP, foto rumah, dan titik koordinat lokasi,” kata Om Zein dalam keterangannya kepada Halo Purwakarta, Rabu (19/8/2026).
Menurutnya, saat dirinya dilantik sebagai Bupati Purwakarta, jumlah RTLH di daerah tersebut mencapai 10.650 unit.
“Ketika saya dilantik, rumah tidak layak huni di Kabupaten Purwakarta jumlahnya ada 10.650 unit. Ini angka yang sangat banyak,” ujarnya.
Meski demikian, Pemkab Purwakarta mulai mengurangi angka tersebut secara bertahap. Sepanjang 2025, sebanyak 1.576 rumah telah diperbaiki melalui berbagai program bantuan.
“Yang sudah kita perbaiki sekitar 1.576 unit. Sumbernya dari APBD, program BSPS, dan bantuan dari pihak lainnya,” jelasnya.
Sementara pada 2026, pemerintah daerah menargetkan penanganan 2.129 unit RTLH tambahan dengan sumber pendanaan yang sama, termasuk dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
“Yang sedang dan akan dilaksanakan tahun 2026 sekitar 2.129 unit. Sumbernya dari APBD, BSPS, bantuan pihak lain, bahkan dari APBD Provinsi juga,” kata Om Zein.
Dengan demikian, hingga akhir 2026 jumlah rumah yang telah dan sedang ditangani diperkirakan mencapai 3.705 unit.
“Kalau sampai akhir tahun, yang sudah bisa kita tangani sekitar 3.705 unit,” ungkapnya.
Meski begitu, masih tersisa sekitar 6.945 unit RTLH yang belum tersentuh program perbaikan.
“Masih ada 6.945 lagi. Ini jumlah yang sangat banyak, tetapi saya yakin bisa diselesaikan,” tegasnya.
Om Zein menyebut penanganan RTLH menjadi bagian dari visinya mewujudkan Purwakarta yang lebih baik melalui slogan “jalan mulus, imah haralus”.
Menurut dia, pembangunan infrastruktur jalan harus berjalan beriringan dengan perbaikan rumah warga kurang mampu agar kualitas hidup masyarakat meningkat.
“Targetnya bagaimana jalan-jalan di Purwakarta bagus dan rumah-rumah rakyat miskin yang tidak layak huni juga bisa menjadi layak. Tapi tentu membutuhkan waktu,” ujarnya.
Ia juga menanggapi keluhan warga terkait rumah yang kondisinya sudah nyaris roboh namun belum mendapatkan bantuan.
Menurut Om Zein, keterbatasan anggaran dan tingginya jumlah RTLH membuat pemerintah harus bekerja secara bertahap dan berdasarkan prioritas.
“Ada rumah yang keburu miring atau mau ambruk. Itu memang karena jumlahnya sangat banyak. Tapi bukan berarti kita biarkan,” katanya.
Ia mencontohkan, di sejumlah desa pemerintah telah memperbaiki beberapa rumah melalui program BSPS maupun bantuan APBD. Karena itu, masyarakat diminta melihat progres yang telah berjalan sambil menunggu giliran penerima bantuan berikutnya.
“Jangan hanya melihat yang belum terselesaikan. Lihat juga yang sudah dikerjakan dan yang sedang berjalan,” ucapnya.
Selain itu, Om Zein meminta kepala desa menggerakkan semangat gotong royong warga untuk membantu rumah-rumah yang berada dalam kondisi darurat.
“Saya minta kepala desa menggerakkan masyarakat untuk bergotong royong, terutama bagi rumah-rumah yang kondisinya darurat,” katanya.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat karena pemerintah belum bisa menyelesaikan seluruh persoalan RTLH dalam waktu singkat.
“Kami memohon maaf kalau belum bisa menyelesaikan semuanya sekaligus karena memang perlu waktu. Beri kami waktu untuk menyelesaikan 6.945 rumah yang tersisa dalam beberapa tahun ke depan,” ujar Om Zein.
Ia berharap ke depan tidak ada lagi rumah tidak layak huni di Kabupaten Purwakarta.
“Mudah-mudahan Purwakarta benar-benar menjadi daerah dengan jalan yang mulus dan tidak ada lagi rumah tidak layak huni,” pungkasnya. (Ega Nugraha)


Tidak ada komentar