
HALO PURWAKARTA – Dua sosok politik yang belakangan kerap menjadi perhatian publik kembali tampil dengan simbol budaya yang menarik untuk dicermati.
Mantan Presiden Joko Widodo datang ke Bandung, Sabtu (26/9/2026), dengan mengenakan kemeja putih dan iket Sunda berwarna putih.
Penampilannya langsung mengingatkan publik pada gaya Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi alias KDM yang juga kerap tampil menggunakan pakaian khas Sunda dan iket kepala putih.
Di sisi lain, Dedi Mulyadi dalam merespons isu penganiayaan pengendara motor akibat perselisihan di jalan kawasan Cimaung, Purwakarta, tampil dengan gaya yang juga menarik perhatian.
Jika simbol pakaian ini dibaca secara politik, publik tentu bisa saja menghubungkannya dengan dinamika hubungan antara KDM dan keluarga Jokowi.
Lantas, apakah ini sebuah kode?
Pertanyaan tersebut wajar muncul di tengah ramainya pembicaraan politik menuju Pilpres 2029. Nama Dedi Mulyadi memang semakin sering masuk dalam pembahasan politik nasional.
Financial Times bahkan baru-baru ini menyoroti meningkatnya popularitas KDM dan kemunculan namanya dalam peta calon potensial Pilpres 2029.
Pada saat yang sama, rumor mengenai kemungkinan duet Dedi Mulyadi dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka juga telah menjadi bahan pembicaraan.
Bahkan pengamat politik yang dikutip detikJabar menilai kemunculan nama KDM-Gibran tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik saat ini, meski kemunculan nama dalam survei belum berarti terbentuknya pasangan politik.
Menariknya, ketika isu duet tersebut dikonfirmasi, Dedi justru menegaskan bahwa dirinya masih fokus menjalankan tugas sebagai gubernur.
Artinya, sampai sekarang belum ada pernyataan resmi dari Dedi yang memastikan dirinya akan maju dalam Pilpres 2029, apalagi berpasangan dengan Gibran.
Karena itu, iket putih yang dikenakan Jokowi di Bandung maupun pilihan busana KDM tidak bisa begitu saja dianggap sebagai sinyal politik.
Namun dalam politik, simbol memang sering menjadi bahasa tersendiri.
Iket Sunda bisa dibaca sebagai penghormatan terhadap identitas budaya Jawa Barat. Pakaian khas yang dikenakan seorang pejabat juga bisa menjadi bagian dari komunikasi publik untuk mendekatkan diri dengan masyarakat.
Tetapi ketika simbol tersebut muncul bersamaan dengan meningkatnya pembicaraan mengenai Pilpres 2029, publik tentu mempunyai ruang untuk bertanya: apakah ini hanya kebetulan, strategi komunikasi budaya, atau memang ada chemistry politik yang sedang dibangun? (Ega Nugraha)


Tidak ada komentar