Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein (Om Zein)HALO PURWAKARTA – Bupati Purwakarta Saipul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein akhirnya turun tangan membantu 10 warga Purwakarta yang terlantar di Kalimantan Utara setelah mengaku tidak menerima upah sesuai yang dijanjikan oleh pemborong tempat mereka bekerja.
Kepastian bantuan tersebut disampaikan langsung Om Zein saat melakukan percakapan melalui sambungan telepon dengan salah seorang pekerja bernama Manap, warga Ciherang, Pasawahan, Kabupaten Purwakarta, yang saat ini berada di wilayah Kalimantan Utara bersama rekan-rekannya.
Dalam percakapan itu, Manap mengungkapkan kondisi yang dialami dirinya dan sejumlah pekerja lainnya yang merantau ke Kalimantan untuk bekerja di sektor bangunan. Namun harapan untuk mendapatkan penghasilan yang layak justru berujung kekecewaan.
Ia mengaku upah yang diterima tidak sesuai dengan kesepakatan awal. Bahkan dalam beberapa pekerjaan, para pekerja disebut tidak mendapatkan pembayaran sebagaimana yang dijanjikan.
“Dengan hormat kepada Bapak Bupati Purwakarta Om Zein, saya warga Purwakarta minta bantuannya. Saya sekarang berada di Kalimantan Utara. Saya bekerja di bangunan, tapi gaji tidak sesuai dengan harapan kami semua yang berada di Kalimantan Utara ini,” kata Manap saat menyampaikan keluhannya.
Manap menjelaskan bahwa dirinya sempat bekerja selama beberapa waktu, namun pembayaran yang diterima tidak sesuai dengan yang dijanjikan oleh pihak yang merekrut mereka.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat para pekerja kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sebagian bahkan harus bertahan dengan kondisi serba terbatas karena pekerjaan yang diharapkan menjadi sumber penghasilan justru tidak memberikan kepastian.
Saat mendengar laporan tersebut, Om Zein langsung menanyakan kondisi para pekerja dan lokasi mereka berada.
Manap menjelaskan bahwa dirinya bersama sejumlah rekannya berada di wilayah Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara. Mereka mengaku tidak lagi memiliki pekerjaan tetap dan kesulitan untuk kembali ke kampung halaman karena keterbatasan biaya.
“Di sini saya sudah tidak dapat kerja. Biaya hidup juga harus jalan terus,” ujar Manap.
Dalam percakapan itu terungkap bahwa terdapat sekitar 10 warga yang membutuhkan bantuan untuk pulang ke Purwakarta. Sebagian berada di wilayah Bulungan, sementara beberapa lainnya masih berada di daerah Malinau.
Om Zein kemudian memastikan Pemerintah Kabupaten Purwakarta akan membantu proses kepulangan mereka.
“Nanti saya sudah utus dan sudah ngurus kepulangan Bapak dan kawan-kawan,” kata Om Zein kepada Manap.
Bupati Purwakarta itu juga meminta para pekerja bersabar karena proses pemulangan sedang diurus oleh pihak pemerintah daerah.
Ia menegaskan bahwa bantuan akan diberikan agar seluruh warga asal Purwakarta tersebut bisa kembali berkumpul dengan keluarga mereka di kampung halaman.
Namun Om Zein juga memberikan pesan khusus kepada para pekerja agar tidak terlalu memilih moda transportasi selama proses pemulangan berlangsung.
Menurutnya, yang terpenting adalah mereka bisa kembali dengan selamat ke rumah masing-masing.
“Tapi jangan pengen naik pesawat, naik kapal laut saja. Yang penting sampai ke rumah,” ujar Om Zein yang disambut persetujuan oleh Manap.
Rencananya, para pekerja tersebut akan dipulangkan menggunakan transportasi kapal laut dengan biaya yang dibantu oleh Pemerintah Kabupaten Purwakarta.
Selain memastikan kepulangan para pekerja, Om Zein juga mengingatkan agar kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.
Ia menilai banyak pekerja yang tergiur tawaran pekerjaan di luar daerah tanpa terlebih dahulu memastikan kejelasan kontrak kerja maupun sistem pembayaran yang akan diterima.
Karena itu, Om Zein meminta masyarakat yang hendak bekerja di luar daerah untuk lebih berhati-hati dan memastikan seluruh kesepakatan kerja dilakukan secara jelas sejak awal.
“Kalau mau kerja, kontrak kerjanya harus jelas. Gajinya juga harus jelas,” tegas Om Zein.
Pesan tersebut disampaikan sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat agar tidak mudah tergiur janji pekerjaan dengan iming-iming penghasilan besar tanpa adanya kepastian hukum maupun dokumen kerja yang jelas. (Ega Nugraha)


Tidak ada komentar