Ratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti Festival Layangan Freestyle di kawasan industri JISC, Kecamatan Babakancikao, Kabupaten Purwakarta, Sabtu (18/7/2026).HALO PURWAKARTA – Musim kemarau yang identik dengan hembusan angin kencang dimanfaatkan ratusan pecinta layangan dari berbagai daerah untuk mengikuti Festival Layangan yang digelar di kawasan industri JISC, Kecamatan Babakancikao, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Sabtu 18 Juli 2026.
Festival yang berlangsung selama dua hari tersebut sukses menarik perhatian para penghobi permainan tradisional layangan. Sebanyak 256 peserta ambil bagian dalam kompetisi yang menggunakan sistem pertandingan freestyle dengan berbagai kategori yang telah ditentukan panitia.
Peserta tidak hanya berasal dari Purwakarta dan wilayah Jawa Barat, tetapi juga datang dari berbagai daerah lain di Indonesia. Mereka berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Tangerang Banten, hingga sejumlah kota dan kabupaten lainnya yang memiliki komunitas pecinta layangan aktif.
Keikutsertaan peserta dari berbagai daerah menunjukkan bahwa permainan tradisional layangan masih memiliki daya tarik kuat di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan hiburan digital. Bahkan, festival semacam ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus kompetisi yang dinanti para penghobi setiap tahunnya.
Sejak siang hari, lapangan terbuka di kawasan industri JISC dipenuhi warna-warni layangan yang menghiasi langit Purwakarta. Para peserta tampak serius mempersiapkan perlengkapan mereka sebelum pertandingan dimulai. Kondisi cuaca yang cerah dengan hembusan angin yang cukup kuat menjadi tantangan tersendiri bagi para peserta.
Dalam pertandingan freestyle, kemampuan menerbangkan layangan saja tidak cukup. Peserta juga harus memiliki strategi, teknik, serta kejelian membaca arah angin yang berubah-ubah. Perubahan arah hembusan angin yang terjadi secara tiba-tiba sering kali menjadi faktor penentu kemenangan maupun kekalahan.
Bagi para pecinta layangan, sensasi terbesar justru muncul saat layangan mereka beradu dengan layangan lawan di udara. Momen itulah yang memacu adrenalin sekaligus menguji kemampuan peserta dalam mengendalikan benang dan mengatur posisi layangan agar tetap unggul.
Salah satu peserta, Regina Mulya Dwi Yanti, mengaku merasakan pengalaman yang berbeda saat mengikuti festival tersebut. Menurutnya, meskipun permainan layangan selama ini lebih banyak didominasi kaum pria, perempuan juga mampu menunjukkan kemampuan yang tidak kalah hebat.
Regina bahkan berhasil mengalahkan lawannya dalam pertandingan yang diikutinya. Capaian tersebut menjadi pengalaman yang membanggakan sekaligus membuktikan bahwa permainan layangan dapat dimainkan oleh siapa saja tanpa memandang gender.
“Sebelumnya tidak pernah bermain layangan, tapi di festival layangan kali ini saya justru bisa mengalahkan lawan, meski tantangannya harus bisa menentukan arah angin,” ujar Regina.
Pengakuan Regina mendapat perhatian dari peserta lainnya. Kehadirannya sekaligus menjadi bukti bahwa semakin banyak perempuan yang mulai tertarik menekuni permainan tradisional yang selama ini identik dengan kaum laki-laki.
Tidak hanya Regina, peserta lain bernama Nuryana yang berasal dari Karawang juga mengungkapkan kecintaannya terhadap permainan layangan. Menurutnya, hobi tersebut sudah ia tekuni sejak kecil dan tetap bertahan hingga sekarang.
Nuryana mengaku memilih bermain layangan dibandingkan permainan lainnya karena memberikan sensasi tersendiri yang sulit ditemukan pada aktivitas lain. Baginya, kemenangan atas lawan menjadi salah satu kepuasan terbesar dalam setiap pertandingan.
“Sensasi bermain layangan saat bisa mengalahkan layangan lawan,” ungkap Nuryana.
Sementara itu, Ketua Pelangi Jabar, Mulyana, menjelaskan bahwa festival kali ini menggunakan kategori kelas 53-58 dengan sistem pertandingan freestyle. Dalam sistem tersebut, setiap peserta harus mengumpulkan poin tertentu untuk bisa melaju ke babak berikutnya.
Menurut Mulyana, peserta diwajibkan meraih poin angka dua agar dapat melanjutkan pertandingan menuju fase selanjutnya. Setelah itu, peserta yang berhasil lolos akan bertarung hingga mencapai babak semifinal dan final.
“Peserta yang ikut di festival layangan ini ada 256 orang, berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Tangerang Banten dan berbagai wilayah yang ada di Jawa Barat,” jelas Mulyana.
Besarnya jumlah peserta menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap festival layangan. Bahkan beberapa peserta rela menempuh perjalanan jauh demi bisa mengikuti kompetisi yang dianggap bergengsi di kalangan komunitas pecinta layangan.
Selain menjadi ajang kompetisi, festival ini juga memiliki misi penting dalam menjaga eksistensi permainan tradisional. Di tengah era digital yang semakin berkembang, permainan berbasis teknologi kini menjadi pilihan utama banyak anak-anak dan remaja.
Kondisi tersebut membuat berbagai permainan tradisional perlahan mulai ditinggalkan. Jika tidak ada upaya pelestarian, bukan tidak mungkin sejumlah permainan warisan budaya tersebut akan semakin jarang dimainkan oleh generasi muda.
Karena itu, penyelenggaraan Festival Layangan di Purwakarta diharapkan mampu menjadi sarana edukasi sekaligus pelestarian budaya. Melalui kegiatan ini, anak-anak hingga remaja dapat mengenal kembali permainan yang pernah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Indonesia.
Panitia menilai generasi Z dan generasi Alfa saat ini lebih akrab dengan permainan modern berbasis gawai dibandingkan aktivitas tradisional yang dilakukan di ruang terbuka. Padahal, permainan layangan memiliki banyak manfaat, mulai dari melatih konsentrasi, strategi, hingga memperkuat interaksi sosial.
Festival semacam ini juga mampu menghadirkan ruang berkumpul bagi komunitas dari berbagai daerah. Para peserta tidak hanya bersaing untuk menjadi juara, tetapi juga saling bertukar pengalaman mengenai teknik bermain, jenis layangan, hingga strategi menghadapi kondisi cuaca yang berbeda.
Keberadaan komunitas layangan yang terus aktif menjadi harapan bagi keberlangsungan permainan tradisional tersebut. Dengan dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan komunitas, permainan layangan diyakini masih dapat bertahan dan terus berkembang di masa depan.
Di langit Purwakarta yang cerah pada musim kemarau tahun ini, ratusan layangan yang beterbangan seolah menjadi simbol bahwa tradisi lama masih memiliki tempat di hati masyarakat. Antusiasme peserta yang datang dari berbagai penjuru daerah menjadi bukti bahwa permainan sederhana ini belum kehilangan pesonanya.
Festival Layangan Purwakarta 2026 pun bukan sekadar perlombaan mencari juara. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi upaya nyata untuk menjaga warisan budaya, mempererat persaudaraan antarkomunitas, sekaligus mengenalkan kembali permainan tradisional kepada generasi penerus bangsa agar tidak hilang ditelan zaman. (Ega Nugraha)


Tidak ada komentar