
Halo PURWAKARTA — Sejumlah objek wisata di Kabupaten Purwakarta menghadapi tantangan dalam mempertahankan jumlah kunjungan wisatawan. Dalam periode 2024 hingga 2026, jumlah pengunjung di sejumlah destinasi mengalami perubahan.
Kondisi tersebut terjadi di berbagai jenis wisata, mulai dari kawasan Danau Jatiluhur, kolam renang, hingga destinasi wisata pegunungan.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, dan Kebudayaan (Disporaparbud) Kabupaten Purwakarta, Aep Durohman, mengatakan salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah semakin ketatnya persaingan pariwisata antar daerah.
“Banyak daerah lain yang juga mengembangkan tempat wisata baru, sehingga terjadi persaingan yang cukup ketat,” ujar Aep.
Menurutnya, saat ini kunjungan wisata di Purwakarta masih didominasi wisatawan lokal. Sementara kunjungan dari luar daerah cenderung berkurang. Kondisi ini turut berdampak terhadap pendapatan para pengelola objek wisata.
Aep meminta pengelola destinasi tidak panik. Sebaliknya, pengelola harus terus melakukan inovasi agar wisatawan kembali tertarik berkunjung.
Salah satunya dengan memperbaiki dan menambah fasilitas yang tersedia di objek wisata.
“Upaya ini diharapkan dapat menarik kembali minat pengunjung, baik wisatawan lokal maupun luar daerah, sehingga jumlah kunjungan bisa meningkat kembali,” katanya.
Selain fasilitas, pengelola juga diminta lebih kreatif membuat event secara rutin. Kegiatan seperti festival kuliner, seni dan budaya, musik, olahraga, komunitas hingga agenda tematik bisa menjadi daya tarik tambahan.
Menurut Aep, event tidak harus selalu digelar secara besar-besaran. Kegiatan sederhana namun konsisten dan memiliki konsep yang kuat juga bisa membuat wisatawan memiliki alasan untuk datang kembali.
“Jangan hanya mengandalkan objek wisatanya saja. Event juga penting untuk menjadi daya tarik. Kalau ada kegiatan yang menarik dan rutin, masyarakat memiliki alasan untuk datang kembali,” ungkapnya.
Pengembangan event juga dapat disesuaikan dengan karakter masing-masing destinasi serta melibatkan UMKM, pelaku seni, komunitas dan ekonomi kreatif lokal.
Dengan begitu, kegiatan wisata tidak hanya mendongkrak jumlah pengunjung, tetapi juga bisa memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Disporaparbud Purwakarta terus mendorong pengembangan pariwisata melalui pembinaan dan pendampingan kepada pelaku usaha wisata, penguatan promosi, serta pengembangan potensi destinasi di setiap wilayah.
Promosi melalui media sosial dan platform digital juga dinilai penting untuk memperkenalkan destinasi serta agenda wisata Purwakarta kepada masyarakat yang lebih luas.
Sejumlah pelaku pariwisata Purwakarta bahkan berhasil mencatatkan prestasi di tingkat Jawa Barat.
Prime Plaza Hotel berhasil masuk 15 besar ajang Smiling West Java Muslim Friendly Tourism (SWJ-MFT) 2026 kategori Hotel.
Sementara itu, Kampung Kahuripan Cirangkong masuk 5 besar kategori Pengelola Destinasi Terbaik, kategori Daya Tarik Wisata Budaya, dalam ajang Smiling West Java Indonesia Tourism Development and Marketing Awards (SWJ-ITDMA) 2026.
Capaian tersebut dinilai menjadi bukti bahwa pelaku pariwisata Purwakarta memiliki peluang untuk terus meningkatkan kualitas dan daya saing destinasi.
Aep berharap prestasi tersebut bisa menjadi motivasi bagi pengelola wisata lainnya untuk terus berbenah dan berinovasi.
“Harapannya, destinasi wisata di Purwakarta tidak hanya ramai pada momen tertentu, tetapi memiliki agenda kegiatan yang membuat wisatawan tertarik untuk datang sepanjang tahun,” pungkas Aep. (Lan)


Tidak ada komentar